Voice Biometric Diversity – Mencoba memahami teknik penyadapan telepon KPK

“Halo, pak. Ini telepon saya tolong direkam,” kata Anggodo.
“Saya mau ganti nomor pak. Takutnya disadap. Nanti saya kasih nomor telepon baru,” ujar orang yang diduga Ketut itu.
“Saya mau ketemuan besok soal laporan,” kata Anggodo.
“Kita ganti nomor baru saja,” ujar Ketut.
“Jadi sama-sama baru.”
“Besok semua yang datang pak,” ucap Anggodo.
“Oke bos, saya tunggu,” ujar Ketut.

Pernah berpikir kenapa mereka ini teteeep aja bisa disadap KPK walaupun sudah gonta-ganti nomor?

“Ketut” dalam rekaman ini sepertinya cukup yakin bahwa ketika dia dan lawan bicaranya berganti nomor; masalah selesai. Tidak akan bisa disadap (lagi).

Well, yes– hal itu memang bisa berlaku — 10 tahun yang lalu (di Indonesia mungkin baru 3 tahun yang lalu). Ketut mungkin terbayang film James Bond dan jenis-jenis film espionage terbitan tahun 80-90an, yang jagoannya ketika harus menyadap telpon harus masuk ke “Ruangan Direktur”, dan memasang sejenis coil berwarna hitam berbentuk bundar ke sisi microphone telepon kabel, dan penyadap akan mendengarkannya dari seberang jalan.

Atau mungkin sedikit lebih canggih — pikir Ketut, KPK datang ke provider seluler; menyebutkan nomor si Ketut, lalu minta rekamannya. Pakai nomer prabayar saja dong — beres, masalah selesai.

Sebenernya caranya gimana sih KPK menyadap tu? Kalau gonta-ganti nomor gimana coba? Apa iya KPK perlu datang ke provider seluler buat minta rekaman percakapan nomor tertentu?

Sebelumnya kita semua pasti paham bahwa beberapa bagian di tubuh kita adalah unik; yang satu dengan yang lainnya tidak akan sama — meskipun pada kembar identik. Sidik jari adalah salah satu contoh dari biometric diversity tersebut, yang hingga sekarang ini masih digunakan sebagai proses identifikasi dalam banyak kasus selain struktur gigi.

Yang lainnya, kita punya DNA — yang bisa didapat dari serpihan kulit ari, kuku, sperma, darah dan rambut. Cara identifikasinya bisa dilihat di Crime Scene Investigation (CSI) — at least kira-kira seperti itulah, minus drama dan petugas-petugas cantik dan ganteng secara ini adalah film fiksi jadi banyak yang lebay.

And there we have Voice recognition. Teknologi yang sudah diadopsi banyak smartphone yang bisa diprogram untuk melakukan perintah tertentu (biasanya dial). Seingat saya, Ericsson lah (sebelum bergabung dengan Sony) yang pertama kali mengimplan teknologi ini dalam mass product mereka. CMIIW.

Voice Biometric Diversity. It’s the most possible key to the answers above. Semisal saya adalah orang KPK (misal lho ya..), inilah yang akan saya gunakan untuk menyadap. Analoginya adalah; ketika anda sendiri bisa mengenali suara teman anda, ibu, atau mertua anda, pastilah sistem komputasi yang canggih juga akan bisa mengidentifikasi suara seseorang– dengan lebih baik, karena suara satu orang dengan yang lainnya adalah unik.

Teknologi voice recognition yang dipakai tentunya tidak hanya mengenali aksen, frekuensi dan ‘pitch’ vokal tersebut, tapi terutama adalah “apa yang terjadi sebelum suara keluar dari mulut dan hidung” target. Artinya; dari suara tersebut bahkan bisa direkonstruksi pola daleman mulut dan hidung seseorang.

Aplikasi dalam proses penyadapan — lagi-lagi kalau saya ini orang KPK, maka penyadapan yang akan saya lakukan bisa 2 jenis. Yang pertama adalah realtime — artinya KPK menganalisa percakapan yang terjadi pada BTS tertentu — atau bahkan akses ke server utama dari provider seluler. Dengan voice sample yang ada, komputer akan scan seluruh percakapan yang terjadi saat itu, dan ketika ada yang cocok, maka akan disadap.

Yang kedua, scan dilakukan pada database percakapan yang terjadi — tentunya difilter berdasarkan asumsi lokasi sang target –kalo ngga yo mumet tenan komputere saking okehe sing di-scan. Artinya percakapan yang sudah terjadi dalam periode tertentu (yang sudah lewat) pun bisa didapatkan.

Nah, dengan begini percuma saja gonta-ganti nomor, karena identifikasinya bukan di nomor tersebut, tapi langsung ke suara target. Anda yang pernah nonton Die Hard 4.0 pasti paham maksud saya.

Gotcha, Anggodo!

Empat Kuadran Kuliner dan Aplikasinya dalam Bisnis (2 – Price Comparative)

2. Price Comparative (P) — mana yang paling murah?

Seperti hukum sebab-akibat, konsekuensi logis yang terjadi ketika manusia dihadapkan pada beberapa pilihan adalah terjadinya perbandingan. Manusia secara naluriah akan membandingkan beberapa opsi yang dia miliki dengan memilih yang paling menguntungkan untuknya.

Pada kaitannya dalam bisnis kuliner, calon konsumen akan cenderung membandingkan pilihan yang mereka punya dengan titik berat pada segi harga, apabila jenis makanan/minuman yang diperbandingkan adalah sejenis.

Contoh sederhana kondisi ini adalah ketika seorang calon konsumen sedang berada di foodcourt di sebuah mall, dimana gerai-gerai yang ada menjual makanan yang mirip-mirip; misalnya nasi ayam. Mungkin sudah perbedaan pada varian menu ayam tersebut (ayam bakar/ayam goreng/ayam goreng tepung/ayam panggang/ayam crispy, dll), tapi tetap saja secara psikologis, konsumen akan melihatnya sebagai “nasi-ayam” dan kemudian memperbandingkan harga antara satu “nasi-ayam” dengan “nasi-ayam” yang lain. Continue reading ‘Empat Kuadran Kuliner dan Aplikasinya dalam Bisnis (2 – Price Comparative)’

Empat Kuadran Kuliner dan Aplikasinya dalam Bisnis (1 – The Common)

Pada posting terakhir beberapa bulan lalu saya mencoba menjelaskan tentang 4 kuadran kuliner, dimana saya berpendapat bahwa sejarah berulang dan kita telah kembali ke era food gathering.

Sedikit mengingatkan, bahwa 4 kuadran tersebut yaitu adalah: (1) The Common, (2) Price Comparative, (3) Sense Seduction, dan (4) As Destination. Masing-masing mempunyai karakter sendiri-sendiri. Nah kemudian yang akan saya bahas adalah bagaimana aplikasi penggolongan kuadran tersebut dalam bisnis kita, yaitu bisnis kulineršŸ™‚

Mari kita bahas satu per satu.

1. The Common (C) — yang biasanya ajalah..

Tipe makanan/minuman adalah makanan “biasa” dan semua orang mengenalnya. Maka otomatis ketika anda menyasar calon konsumen di kuadran ini maka syaratnya anda haruslah berada di sebuah tempat yang crowdnya sudah terbentuk. Entah itu di stasiun, sekolah, kampus, didalam mall yang ramai, atau dekat pabrik.

Bicara tentang konsumen Indonesia, contoh produknya adalah Es Teh, Es Jeruk, Nasi Sayur, Tempe, Tahu, Ayam Goreng, Nasi Goreng. Akan berbeda tentunya apabila kita bicara tentang konsumen dari negara atau daerah yang sangat berbeda kultur kulinernya dengan kita. Continue reading ‘Empat Kuadran Kuliner dan Aplikasinya dalam Bisnis (1 – The Common)’

Era Food Gathering dan Empat Kuadran Kuliner

Robert T. Kiyosaki membagi manusia menjadi 4 kuadran secara finansial (cashflow quadrant), dan mengajak agar berpindah dari sisi kiri ke sisi kanan.

The 4 Culinary Quadrant

The 4 Culinary Quadrant

Beberapa puluh abad yang lalu, manusia berburu makanan; atau sering kita kenal dengan era ‘food gathering’. Ternyata era ini berulang lagi dalam kehidupan kita di abad 21 ini.

Seberapa sering anda makan dirumah? Apakah anda lebih sering makan diluar daripada memasak sendiri?

Sebagian besar dari kita telah kembali ke era food gathering, seperti nenek moyang kita dulu. Kita jarang lagi menanam jagung di kebun kita, atau menyemai kentang di ladang kita. Kalaupun kita berkebun atau bercocok tanam, itu pastilah hobi, atau bagian dari bisnis kita. Kita jarang sekali bisa memasak apa yang kita tanam.Ā 

Manusia kembali berburu untuk makanan.

Bedanya, dulu pilihan berburu sangat terbatas, jadi manusia cenderung tidak pilih-pilih ketika berburu. Mana ada, mana sikat!

Di era food gathering abad 21, manusia dijejali dengan begitu banyak pilihan makanan. Dari kaki lima sampai restoran mewah, dari makanan lokal tradisional sampai gerai modern franchise dari negara lain, dan masih banyak lagi pengkategorian makanan yang ada di sekitar kita.

Saya mencoba membagi bagaimana manusia sebagai makhluk konsumsi memutuskan apa yang akan menjadi “buruannya” berupa apa yang dia makan dan minum menjadi empat kuadran yaitu:

1. The Common (C)
2. Price Comparative (P)
3. Sense Seduction (S)
4.Ā As Destination (D)

Akan saya coba bahas satu persatu;

Kuadran pertama: The Common (C)

Kuadran pertama yaitu The Common (C), adalah ketika Continue reading ‘Era Food Gathering dan Empat Kuadran Kuliner’

Manajemen SOP beserta aplikasinya di restoran (sebuah studi kasus)

Kemarin,

Saya mendapatkan sebuah kritik keras dari konsumen mengenai bagaimana menentukan batasan-batasan dalam aplikasi sebuah Standard Operational Procedure pada restoran. Berikut saya quote dari blog beliau:

Setelah kami duduk datanglah seorang waiter datang membawa menu yang kami tunggu. Biasanya setelah menyerahkan menu memang mereka pergi sambil menunggu agak jauh sebelum dipanggil untuk mencatat pesanan, tapi ini agak sedikit beda, dia tidak pergi, sesaat kemudian dia memberitahu kami dengan halus, bahwa dilarang membawa makanan dan minuman dari luar. beberapa saat aku terdiam masih belum paham maksut yang dikatakannya aslinya memang gak konsentrasi karena lapar. Kemudian sontak saya sadar bahwa dia memang memperingatkan kami sekeluarga, karena anak kami membawa Snack chiki. Setengah emosi saya tanyakan, apakah disini menjual chiki juga? karena kupikir dilarang membawa chicki juga karena mereka menjual snack chiki, tidak ada jawaban, lalu kutanya lagi, apakah sebuah chiki juga dilarang dibawa masuk ke area makan disitu? dan jawabnya memang begitulah peraturannya.

SOP yang berlaku di FoodFezt yaitu ‘dilarang membawa makanan dan minuman dari luar’ sebenarnya adalah sebuah peraturan standard yang ada juga di restoran yang lain. Lalu apa yang salah?

Yang salah adalah bagaimana menerapkannya dan apa saja batasan aplikasinya.

Apabila anda sedang memulai bisnis kuliner, yang anda tunggui/supervisi sendiri, kasus seperti ini hampir dipastikan tidak mungkin terjadi. Tetapi ketika ‘naik level’, anda sudah mulai menggunakan SOP sebagai panduan untuk melayani pelanggan, berhati-hatilah. Selalu perhitungkan segala kemungkinan yang bisa terjadi, segala bentuk respon pelanggan, dan bagaimana antisipasinya.

Dalam hal ini, pelaksana SOP (waiter) tidak bisa dipersalahkan. Ini adalah masalah dari ‘policy maker’.

Saya telah meminta maaf secara langsung dengan media yang sama kritik tersebut disampaikan (comment di blog), tapi saya telah terlanjur kehilangan beberapa pelanggan setia saya karena ini karena efek word of mouth yang terjadi.

Semoga pengalaman dan pelajaran berharga yang saya alami bisa juga menjadi pelajaran berharga untuk anda. We’re always be a student of life, anyway..

Bisnis Kuliner dan Baju Baru

Bisnis kuliner sangat menyenangkan!

Komentar diatas seringkali tercetus dari pemilik bisnis kuliner yang sukses. Apalagi dengan bulan ramadhan ini, omzet rata-rata rumah makan naik 30 hingga 50 persen. Namun, terus terang saya ikut miris melihat beberapa warung/restoran tetap saja sepi, padahal ditempat lain pebisnis lintang pukang mencari tambahan meja dan kursi untuk konsumennya; dan tetap saja harus menolak banyak tamu yang nggak kebagian meja.

Beberapa bulan yang lalu sempat konsep saya tentang FoodFezt dijiplak habis; dari logo yang mirip, tagline, hingga sampai ke apron (celemek) waiter/waitress pun mirip. Makanan yang dijual? Tentunya juga sama, karena 50% tenant pengisinya pun “membajak” dari FoodFezt. Bahkan sebagian orang mengira bahwa restoran ini merupakan cabang dari restoran saya. Continue reading ‘Bisnis Kuliner dan Baju Baru’

Bagaimana Memupuk Semangat Entrepreneurship

Beberapa nasihat orang bijak menyatakan bahwa kalau anda apabila anda ingin melihat masa depan anda, maka lihatlah orang-orang yang ada disekitar anda. Jadi, ketika anda ingin sukses, maka buatlah orang-orang disekeliling anda agar mendukung anda.

Yang menjadi masalah kemudian, ada banyak kasus seseorang akan habis energinya hanya untuk meyakinkan orang-orang disekelilingnya agar mendukung mindsetnya. Nah, saya akan mencoba memaparkan trik tentang ‘manajemen dukungan’ ini.
Continue reading ‘Bagaimana Memupuk Semangat Entrepreneurship’


Bisnis | Kuliner

Blog pribadi ini membahas tentang dunia kuliner dari berbagai aspek; review tentang rasa ataupun kupasan bisnis serta teknologi didalamnya.

September 2016
M T W T F S S
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930