Bisnis Kuliner dan Baju Baru

Bisnis kuliner sangat menyenangkan!

Komentar diatas seringkali tercetus dari pemilik bisnis kuliner yang sukses. Apalagi dengan bulan ramadhan ini, omzet rata-rata rumah makan naik 30 hingga 50 persen. Namun, terus terang saya ikut miris melihat beberapa warung/restoran tetap saja sepi, padahal ditempat lain pebisnis lintang pukang mencari tambahan meja dan kursi untuk konsumennya; dan tetap saja harus menolak banyak tamu yang nggak kebagian meja.

Beberapa bulan yang lalu sempat konsep saya tentang FoodFezt dijiplak habis; dari logo yang mirip, tagline, hingga sampai ke apron (celemek) waiter/waitress pun mirip. Makanan yang dijual? Tentunya juga sama, karena 50% tenant pengisinya pun “membajak” dari FoodFezt. Bahkan sebagian orang mengira bahwa restoran ini merupakan cabang dari restoran saya.

Plagiatisme yang terjadi adalah salah satu parameter bahwa sebuah konsep itu berhasil.

Ada excitement yang sangat tinggi yang memicu adrenalin rush karena saya merasa adanya sebuah kompetitor yang memacu agar bisa selalu lebih baik dalam hal apapun. Narsisme saya juga ikut terdongkrak, karena salah satu parameter bahwa sebuah konsep itu berhasil adalah karena ada yang meniru.

Sayang, ternyata keadaan itu tidak berlangsung lama karena hanya dalam waktu tiga bulan “kompetitor” (kita sebut saja X) tersebut tutup. Sungguh saya merasa sedih, karena perasaan “dikejar dalam jarak dekat” itu hilang.

Seorang teman bertanya pada saya, apakah penyebab dari kegagalan si X tersebut. Dia bilang bahwa segala syarat untuk sebuah restoran yang sukses sudah dipenuhi, yaitu:

1. Lokasi yang strategis
2. Makanan yang enak
3. Lahan parkir yang cukup luas
4. Value added Service (wi-fi, live music etc)

Analisa saya adalah bahwa kesalahan kompetitor tersebut adalah bahwa dia memakai bekas bangunan yang tadinya merupakan restoran yang sudah tidak laku dan tutup. Tentunya ada beberapa hal lain yang ikut berperan, tapi saya berpendapat bahwa kesalahan terbesarnya adalah menggunakan bangunan “bekas”.

Baju baru dipakai orang lama.

Meminjam istilah rekan saya yang lain; si X tersebut seakan-akan hanya “orang lama” yang berganti dengan “baju baru” tapi sayang bajunya tersebut jelek dan kusam, jadi konsumen hanya akan melirik sepintas tanpa ada keinginan untuk mampir.

“Saya tidak pernah tau tuh pernah ada restoran disitu tuh sebelum X berdiri.. Bagaimana bisa kamu menyimpulkan bahwa X tersebut gagal karena tadinya bekas restoran yang tutup karena nggak laku?”

Itu pertanyaan berikutnya yang disampaikan ke saya, sekaligus menyanggah analisa kecil-kecilan saya. Nah, memang ada akibat turunan lain berasal dari pemilihan lokasi “bekas” tersebut. Mungkin bagi sebagian orang tidak tahu kalau disitu pernah ada restoran, tapi mendapati tiba-tiba saja ada restoran disitu.

There’s nothing new there.

Itu adalah ungkapan yang tepat menggambarkan restoran tersebut. Orang tidak mendapati hiruk-pikuk pembangunan sebuah bangunan baru, pun ketika terdapat renovasi hanya sekedar di baliho dan tanam-tanaman. Bagi calon konsumen yang tidak tahu apakah tadinya bangunan tersebut, hanya mendapati sesuatu yang “tanggung”. There’s nothing new there.

Pelajaran yang saya dapatkan, dan sedikit bisa dibagikan untuk orang-orang yang berencana berbisnis kuliner dari pengalaman ini adalah:

  • Hindari membuka sebuah bisnis kuliner di lokasi “bekas” dimana tadinya ada pernah dibuka sebuah bisnis kuliner juga, tapi tutup karena tidak laku. Tentunya ini tidak berlaku jika anda mempunyai brand image yang sangat-sangat kuat.
  • Jika anda terpaksa harus membuka di lokasi “bekas”, pastikan adanya perombakan total yang mencolok mata bagi calon konsumen.
  • Komunikasikan kepada calon konsumen bahwa bisnis anda sedang dibangun disitu, tapi jangan terlalu banyak. Iklan terbaik adalah iklan yang membuat calon konsumen penasaran dan ingin tahu lebih banyak.

Seperti biasa, artikel ini saya buat berdasar pengalaman pribadi dan dari point of view subjective saya. Semoga bermanfaat.

5 Responses to “Bisnis Kuliner dan Baju Baru”


  1. 1 Thomas Arie September 18, 2008 at 1:50 pm

    Wah, menarik sekali tulisannya..

    Soal “bangunan bekas”, saya sebagai konsumen atau warga umum memang sih kadang merasa kalau pengubahan product, nama atau apapun itu, apalagi untuk usaha yang sejenis efeknya lumayan besar.

    Misalnya saya pernah liat ada bangunan untuk lembaga pendidikan. Kemudian bangunan tersebut dipakai untuk “brand” lain, dengan jasa/produk sejenis.

    Bahkan, bangunan yang sama malah sempat untuk tempat kursus saja.

    Hasilnya? Sampai sekarang udah tidak tahu berapa kali berganti, bahkan kalau tidak sadar… mungkin tidak tahu kalau ternyata sudah ganti “nama”.

    Ini terjadi di daerah Jogja agak selatan, dekat tempat tinggal saya.

    Terima kasih untuk tulisan yang mencerahkan. Oh ya, saya bukan pelaku bisnis makanan. Tapi beberapa kali sudah ke Foodfezt memang. Nyaman memang tempatnya. Mendapati waiter dengan PDA saja sudah menjadi sebuah pengalaman tersendiri… bisa mencari cerita tersendiri..πŸ˜€

    Maap kalau komentar terlalu panjang..πŸ˜‰

  2. 2 membuat bisnis ~ how to make business August 26, 2014 at 1:12 am

    artikel cara membuat peluang usaha jual toko online
    article recipe make business trade shop online

    kita dapat membuat sesuatu berharga
    you could get something worth

    kita dapat memperoleh hasil bermanfaat
    we could make something value

    belajarlah dari hal yang mudah sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
    dan berguna
    learn of things simple that our can be acquire results helpful

    jadikan harimu berguna untuk orang terdekatmu
    made your activities useful to other people

    kamu bisa mengejar keinginanmu
    you are can be chas desires

    jadikan kita bermanfaat untuk masyarakat negara
    make we helpful for fellow nation

    kesuksesan kita ada ditangan
    success there hands

    jadi kejarlah kesempatanmu
    so chase dream

    salam sukses luar biasa
    greetings tremendous success

    maju bersama kita
    forward with us
    http://Minyakangin-naishcare.com/minyak-angin-naishcare-lavender.html

  3. 3 peluang usaha May 28, 2015 at 5:38 pm

    the bigest business “peluang usaha”

  4. 4 promosi June 12, 2015 at 12:06 am

    Sustain the good job and delivering in the crowd!

  5. 5 katalog June 12, 2015 at 12:07 am

    Thanks! It is definitely an wonderful web-site!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Bisnis | Kuliner

Blog pribadi ini membahas tentang dunia kuliner dari berbagai aspek; review tentang rasa ataupun kupasan bisnis serta teknologi didalamnya.

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Dec »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d bloggers like this: